| OASE DI TENGAH TELAGA (2) |
|
|
|
| Ditulis oleh A Dudi Krisnadi |
| Jumat, 13 November 2009 11:17 |
|
Pada tulisan sebelumnya saya sampaikan banyak sekali potensi yang dapat dimanfaatkan oleh LMDH dalam rangka meningkatkan kesejahteraannya. Namun sayang sekali potensi tersebut belum dapat termanfaatkan secara optimal. Padahal, faktor daya dukung untuk pengembangan usaha mereka telah tersedia dengan jelas di lapangan. Eco Art Village Dari penuturan pengurus LMDH Wono Asri, keinginan mereka untuk mengembangkan usaha jasa lingkungan dengan menciptakan obyek dan atraksi wana wisata di wengkonnya, justru muncul karena melihat fakta 60 % wisatawan yang datang ke Telaga Sarangan kembali pulang. Pengunjung itu sudah jenuh dengan kondisi obyek wisata Telaga Sarangan yang nyaris sembrawut, tidak ada alternatif obyek lain untuk dinikmati, termasuk obyek wana wisata Perum Perhutani. Seperti Obyek Wana Wisata Mojosemi misalnya, tampak jelas tidak diurus dengan baik oleh Perum Perhutani sebagai pengelola. Lihat saja pintu gerbang, kantor informasi, wc umum, masjid dan fasilitas lainnya, dalam kondisi sangat terbengkalai.
Melihat peluang itu, LMDH Wana Asri bermaksud untuk menciptakan obyek dan atraksi baru yang akan menjadi alternatif tujuan wisata Telaga Sarangan. Obyek dan Atraksi itu memanfaatkan lokasi wengkon yang memang selama ini “tidak dimanfaatkan” Perum Perhutani. Atau dengan bahasa lain, tidak optimal digali manfaatnya oleh Perum Perhutani. Padahal, lokasi itu sangat strategis, berada di tepi jalan utama lingkar selatan yang tengah dibangun dan sangat memungkinkan untuk dijadikan obyek dan atraksi wisata tanpa melanggar prinsip-prinsip pengelolaan hutan lestari. Obyek dan atraksi wisata yang mereka berinama Eco Art Village mengusung thema keselarasan aktivitas ekonomi kreatif dengan kehidupan alam terbuka. Mereka akan menjadikan lokasi itu tempat untuk mempertontonkan proses pembuatan kerajinan berbahan alam, seperti pembuatan kertas pelepah pisang, anyaman bambu, batik tulis, ukiran limbah kayu, lukisan pelepah pisang dan lain-lain dalam bentuk mini sample di arena terbuka. Diharapkan, dengan melihat proses pembuatan yang memerlukan waktu, ketelatenan dan kesabaran itu, akan meningkatkan apresiasi pengunjung terhadap produk akhirnya. Dan, tentu saja harapan terakhirnya adalah terjadi transaksi dan terciptanya sumber pendapatan mereka. Masih dalam konsep Eco Art Village, atraksi lainnya yang akan mereka kembangkan di lokasi yang sama adalah Beautifull night at forest, yakni menjual sensasi dan pengalaman menginap di hutan, di bawah pepohonan dengan keheningan dan suara khas fauna hutan. Pengunjung disediakan sebuah gerbong pedati yang dimodifikasi dan dapat dipindah-pindah karena bertumpu pada roda kayu. Jika ada wisatawan yang berminat, maka gerbong yang mereka sebut Rumah Pedati itu akan digelar untuk mereka. Tidak itu saja, pada malam harinya mereka menyuguhkan seni tradisi yang tumbuh dan berkembang disekitar itu. Ada banyak kelompok kesenian dan sanggar yang bisa diberdayakan dan bersinergi dengan usaha mereka. Selain itu, aktivitas olah raga alam seperti kid outbound, tree top, flying fox dan natural playground disediakan sebagai fasilitas atraksi. Bahkan, mereka pun menata lokasi dengan jalan setapak dan kursi-kursi alam yang disediakan bagi wisatawan yang hanya sekedar ingin menikmati atmosphere hutan pinus. Termasuk, pengunjung muda mudi yang ingin menikmati sensasi berbincang di alam terbuka. Selain Eco Art Village, LMDH pun berencana untuk mengembangkan atraksi lainnya yang lebih serius dan memerlukan penanganan khusus, yakni ATV, Air Soft Gun, Track Mountainbike, dan paket Outbound, di lokasi lainnya yang memungkinkan. Atraksi-atraksi tersebut memang belum ada dan belum terpikirkan oleh pengelola obyek wisata, baik pemerintah daerah maupun Perum Perhutani. Padahal, hasil survei yang mereka lakukan terhadap pendapat pengunjung atas atraksi itu justru menguatkan kesimpulan tersedianya pasar dan pangsa pasar yang cukup luas bagi rencana usaha mereka. Kendala Biasanya, ketika berbicara tentang bagaimana mewujudkan keingan LMDH, sebagian besar dari LMDH akan terbentur pada tidak tersedianya dana, kecuali pada kasus LMDH-LMDH yang mendapatkan sharing hasil produksi kayu yang nilainya bisa mencapai ratusan juta rupiah. Namun meskipun LMDH Wono Asri adalah LMDH yang memiliki wengkon Hutan Lindung dan tidak pernah sedikitpun menikmati sharing dari Perum Perhutani, ketersediaan dana ini tidak menjadi kendala utama. Pasalnya, mereka memiliki sistem sendiri terkait dengan pengumpulan dana ini yang membuat saya kagum. Saya pikir, ini merupakan bentuk lain dari nilai-nilai kearifan lokalnya. Hal itu tampak jelas ketika keinginan mereka saya formulasikan dalam bentuk rencana tindak lanjut dengan pola memecah segala kebutuhan menjadi modul-modul, kemudian modul-modul itu disusun ulang seperti menyusun balok-balok kayu yang biasa digunakan anak-anak TK atau bahkan PAUD. Misalnya, untuk mewujudkan keinginan membangun Eco Art Village, maka diperlukan lapangan parkir untuk menampung kendaraan pengunjung (modul 1), stand tempat pengrajin mempertontonkan keahliannya (modul 2), rumah pedati tempat pengunjung menginap (modul 3), dan kebutuhan (modul) lainnya. Kemudian, mereka melelang pembiayaan modul-modul itu kepada anggota dengan kompensasi bagi hasil dari perolehan pendapatan dari modul-modul itu. Dengan pola demikian, tanpa terasa seluruh kebutuhan (modul) tersebut dapat selesai dipenuhi oleh anggota sendiri. Tentu saja ini pun tidak terlepas dari kemampuan ekonomi pribadi para anggotanya, terutama para pengurus yang terdiri dari berbagai lapisan itu. Pola modul ini hanya bisa diterapkan pada kondisi-kondisi tertentu saja. Ketika dilelang kebutuhan modul lapangan parkir dengan kompensasi karcis parkir, mereka terstimulir untuk bergerak menghitung kebutuhan biaya dan prediksi pendapatannya. Dalam waktu singkat, beberapa anggota mengajukan diri untuk mengambil modul itu, bahkan hampir bisa dikatakan berebut untuk mengambil modul itu. Begitu pun ketika modul-modul lainnya dilelang. Memang terdapat modul yang memiliki prediksi keuntungan minim karena bersifat melengkapi obyek dan atraksi, seperti penataan playground, jalan setapak dan keindahan taman yang merupakan pelayanan free of charge. Untuk modul-modul seperti ini, solusinya adalah menjadi beban institusi LMDH yang kebutuhan biayanya diperoleh dari bagi hasil LMDH dan bantuan-bantuan lainnya yang diperoleh LMDH dari pihak ketiga. Pola ini sungguh sangat efektif untuk memupuk kas dan pembendaharaan LMDH. Pasalnya, dalam kurun waktu tertentu semua investasi yang ditanamkan akan menjadi milik institusi yang berarti milik masyarakat desa hutan. (bersambung) |
| Terakhir Diperbaharui pada Sabtu, 14 November 2009 07:40 |




